SEPI PEMINAT
Catatan Sebuah Perjalanan Adu Nasib Penghulu.
Lomba Karya Tulis Ilmiah mungkin kurang menarik bagi penghulu. Terbukti pada tahun ini 2015, hari Rabu, 13 Mei di Kanwil Kemenag Banten, sepi peminat. Dari 16 peserta yang mestinya hadir, hanya 11 peserta yang ikut ajang tahunan ini. Bahkan Kota Cilegon dan Tangsel tidak satupun peserta yang ikut. Mereka yang tampil-pun banyak dalam posisi kurang siap, seperti penghulu Roni Sahroni dari Kabupaten Serang yang karya tulis-nya baru dibuat di ruang Bimas Kanwil, saat orang lain sedang presentasi. weleh...welehhh.
Berat memang membuat karya tulis ilmiah bagi penghulu, mengingat pekerjaan keseharian penghulu adalah berhadapan dengan para calon pengantin yang minta disahkan pernikahannya, bukan bergulat dalam bidang keilmuan sebagai mana layaknya dosen, peneliti, widyaiswara maupun pekerjaan lain yang berkaitan dengan kajian-kajian lapangan keilmuan.
Dari keseluruhan peserta memang tampil lumayan, namanya juga juara Kabupaten Kota. Dan penghulu yang diutus, tentu bukan sembarangan penghulu. Mereka adalah yang punya idealisme untuk maju, ada kemauan, bisa pake laptop, bisa presentasi dan tentu harus yang siap mental untuk diuji. Oleh karena itu, penghulu yang tampil rata-rata masih muda dan pilihan kemenag masing-masing.
Ada penampilan yang berbeda dari panitia pada tahun ini, kalau tahun-tahun lalu, makalah dibuat di Kanwil dan langsung presentasi, sehingga hasilnya kurang maksimal. Tahun ini, para peserta disuruh membawa makalah masing-masing rangkap tiga, dan langsung presentasi, sehingga waktu uji dan presentasi cukup maksimal. Mungkin panitia belajar dari lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional yang sudah dilaksanakan dua kali, sejak tahun 2013 dan 2014.
Penulis sendiri adalah utusan Kemenag Kota Serang, yang tampil hampir tiga kali di ajang KTI tingkat provinsi Banten dan masuk juara 2 kali tahun 2011 dan 2012. Walaupun merasa sudah tua dan lelah, tetapi penulis anggap ini sebagai tantangan dan juga peluang untuk bisa masuk di ajang nasional, ditengah-tengah para penghulu kelelahan menunggu transport PNBP yang belum kunjung cair.
Memang persiapan penulis cukup matang, karena dipersiapkan sejak empat bulan yang lalu yang kebetulan ada kasus yang berkaitan dengan tema yang disodorkan dari Jakarta. Walaupun cukup susah dan perlu waktu, penulis mencoba untuk mengambil data lapangan, yaitu observasi ke lokasi kasus yang berada diwilayah kerja sambil menikahkan, mewawancara para sumber data dan menyebarkan angket kepada responden karena data yang dipake adalah kuantitatif.
Hal yang menarik pada saat presentasi, walaupun penguji yang kawan sendiri yaitu H Deni Rusli, tetapi dalam perlombaan seperti itu, kawan tidak berlaku lagi. Mental penulis-pun sedikit goyah, dan penguji-pun bah guru besar yang sedang menguji mahasiswanya. Tetapi dengan persiapan yang cukup, maka semua pertanyaan juri dapat dijawab dengan lancar, walaupun masih banyak kekurangan.
Penulis tidaklah sesumbar, apalagi sombong. Dengan kekhusuan penulis mengikuti setiap peserta yang tampil, sepertinya yakin KTI tahun ini akan merubah nasib tahun-tahun sebelumnya. Apa yang penulis cita-cita kan untuk bisa tampil diajang nasional dapat terwujud walaupun ini hanya sebuah mimpi.
Lumayan lah....hadiahnya kan besar....aminn. Wasslaam. H. Komar Ketua Pokjahulu Kota Serang.
Lomba Karya Tulis Ilmiah mungkin kurang menarik bagi penghulu. Terbukti pada tahun ini 2015, hari Rabu, 13 Mei di Kanwil Kemenag Banten, sepi peminat. Dari 16 peserta yang mestinya hadir, hanya 11 peserta yang ikut ajang tahunan ini. Bahkan Kota Cilegon dan Tangsel tidak satupun peserta yang ikut. Mereka yang tampil-pun banyak dalam posisi kurang siap, seperti penghulu Roni Sahroni dari Kabupaten Serang yang karya tulis-nya baru dibuat di ruang Bimas Kanwil, saat orang lain sedang presentasi. weleh...welehhh.
Berat memang membuat karya tulis ilmiah bagi penghulu, mengingat pekerjaan keseharian penghulu adalah berhadapan dengan para calon pengantin yang minta disahkan pernikahannya, bukan bergulat dalam bidang keilmuan sebagai mana layaknya dosen, peneliti, widyaiswara maupun pekerjaan lain yang berkaitan dengan kajian-kajian lapangan keilmuan.
Dari keseluruhan peserta memang tampil lumayan, namanya juga juara Kabupaten Kota. Dan penghulu yang diutus, tentu bukan sembarangan penghulu. Mereka adalah yang punya idealisme untuk maju, ada kemauan, bisa pake laptop, bisa presentasi dan tentu harus yang siap mental untuk diuji. Oleh karena itu, penghulu yang tampil rata-rata masih muda dan pilihan kemenag masing-masing.
Ada penampilan yang berbeda dari panitia pada tahun ini, kalau tahun-tahun lalu, makalah dibuat di Kanwil dan langsung presentasi, sehingga hasilnya kurang maksimal. Tahun ini, para peserta disuruh membawa makalah masing-masing rangkap tiga, dan langsung presentasi, sehingga waktu uji dan presentasi cukup maksimal. Mungkin panitia belajar dari lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional yang sudah dilaksanakan dua kali, sejak tahun 2013 dan 2014.
Penulis sendiri adalah utusan Kemenag Kota Serang, yang tampil hampir tiga kali di ajang KTI tingkat provinsi Banten dan masuk juara 2 kali tahun 2011 dan 2012. Walaupun merasa sudah tua dan lelah, tetapi penulis anggap ini sebagai tantangan dan juga peluang untuk bisa masuk di ajang nasional, ditengah-tengah para penghulu kelelahan menunggu transport PNBP yang belum kunjung cair.
Memang persiapan penulis cukup matang, karena dipersiapkan sejak empat bulan yang lalu yang kebetulan ada kasus yang berkaitan dengan tema yang disodorkan dari Jakarta. Walaupun cukup susah dan perlu waktu, penulis mencoba untuk mengambil data lapangan, yaitu observasi ke lokasi kasus yang berada diwilayah kerja sambil menikahkan, mewawancara para sumber data dan menyebarkan angket kepada responden karena data yang dipake adalah kuantitatif.
Hal yang menarik pada saat presentasi, walaupun penguji yang kawan sendiri yaitu H Deni Rusli, tetapi dalam perlombaan seperti itu, kawan tidak berlaku lagi. Mental penulis-pun sedikit goyah, dan penguji-pun bah guru besar yang sedang menguji mahasiswanya. Tetapi dengan persiapan yang cukup, maka semua pertanyaan juri dapat dijawab dengan lancar, walaupun masih banyak kekurangan.
Penulis tidaklah sesumbar, apalagi sombong. Dengan kekhusuan penulis mengikuti setiap peserta yang tampil, sepertinya yakin KTI tahun ini akan merubah nasib tahun-tahun sebelumnya. Apa yang penulis cita-cita kan untuk bisa tampil diajang nasional dapat terwujud walaupun ini hanya sebuah mimpi.
Lumayan lah....hadiahnya kan besar....aminn. Wasslaam. H. Komar Ketua Pokjahulu Kota Serang.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

Foto0049.jpg)